Tentang Taat

Friday, April 13, 2012 0 comments
Bismillah.

Sebenarnya aku sepatutnya ada SC harini, nak kena bagi tazkirah dekat isteri isteri Zagazig. Tapi memandangkan aku telahpun diminta untuk siapkan design, jadi aku terpaksalah duduk rumah, siapkan design ni.

Disebabkan itu, aku hanya akan sampaikan di sini sahajalah.

Bismillahhirrahmanirrahim.
Selalu kita dengar dekat TV, artis artis membicarakan tentang kekasih hati mereka. Begitu mudah bagi mereka untuk masuk ke alam perkahwinan, dan andai tak berkenan, keluar meninggalkannya sebegitu sahaja.
Andai ditanya, mengapa? "tiada jodoh" "tiada jodoh" "tiada jodoh"

Walhal pada awalnya mereka sudah tidak fikirkan masa hadapan. Macammana? Mereka sedar mereka akan berkahwin dgn artis juga. Artis Malaysia sekarang, bukan sekadar berpegang tubuh, malahan boleh ber-scene ranjang bersama. Mengapa kalian terima? Pada hakikatnya kalian boleh pilih jodoh yang baik buat diri kalian.

Step pertama adalah untuk memilih jodoh yang baik untuk diri anda. Bukannya dengan mengatakan, "oh, dia bf aku, dia ni terlalu baik padaku, dialah jodohku." Sebenarnya, jodoh ini, anda boleh memilihnya. Kalau sekadar bf itu baik kepada anda tetapi tidak baik kepada-Nya, macammana? Itulah bakal IMAM kau, bakal pembimbng kau, kalau diri dia sendiri tak terbimbimbing macammana?

Haih.

Pilihan itu berada pada tangan kalian

Dari Khansa binti Khidam RA, "Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan pilihannya, padahal aku tidak menyukainya. Lalu  aku mengadukan persoalan ini kepada Rasulullah. Baginda bertanya padaku, "Terimalah apa yang telah dilakukan ayahmu" Aku menjawab "Tetapi aku tidak menyukai lelaki pilihan ayahku" Maka Baginda bersabda, "Pulanglah, dan batalkanlah pernikahan, dan nikahilah lelaki yang kau sukai" Lalu aku berkata, "Sebenarnya aku boleh menerima pilihan ayahku, tetapi aku ingin agar wanita mengetahui bahawa tidak ada hak bagi orang tua untuk memaksakan pernikahan putrinya"
HR Bukhari dan Ibnu Majah
Demikian dalam riwayat al-Bukhari daripada ‘Abdullah bin ‘Abbas, katanya: Bahawa suami Barirah adalah seorang hamba bernama Mughith. Aku seakan masih terbayang dia mengikuti Barirah dari belakang serta menangis sehingga airmatanya mengalir atas janggutnya.

Nabi s.a.w berkata kepada ‘Abbas: “Wahai ‘Abbas, tidakkah kau hairan melihat cintanya Mughith kepada Barirah dan bencinya Barirah kepada Mughith?”. Lalu Nabi s.a.w berkata (kepada Barirah): “Tidak mahukah jika engkau kembali kepadanya”. Barirah berkata: “Apakah engkau memerintahkanku?”. Nabi s.a.w bersabda: “Aku hanya mencadangkan”. Kata Barirah: “Aku tidak memerlukan dia”. Dalam riwayat Abu Daud, disebut nasihat Nabi s.a.w kepada Barirah yang lebih jelas, di mana baginda bersabda: “Wahai Barirah, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya dia suamimu dan ayah anakmu”. Kata Barirah: “Apakah engkau memerintahkanku agar demikian?”. Nabi s.a.w bersabda: “Bukan perintah, hanya sekadar syafaat”. Barirah menjawab, "aku tidak mahukannya"
HR Bukhari

Sepatutnya, kamu suka pada lelaki yang berilmu agama, bukan kacak. Kerana kekacakkan itu akan hilang diganti kedutan, dan keseksian itu diganti lemak. Benar, aku tak tipu.


Rasulullah bersabda,
Apabila datang kepadamu seorang laki laki yang kamu redhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, kerana jika tidak, makan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerosakan yang besar
HR Tirmidzi dan Ibnu Majah

Maka, pilihlah seseorang itu kerana agamanya, bukan kerana kekacakkannya. Macam kalian tahu, tidak ada fitnah yang lebih besar yang telah ditinggalkan Rasulullah, melainkan wanita.
Wanita itu sendiri memang adalah fitnah. Lagikan bila wanita itu menonjolkan dirinya dalam rupa yang, kurang indah, lebih terpancar kefitnah-an pada wanita tersebut. kenapa? hanya kerana dunia.


Ok, tak larat dah nak tulis. tadi macam semangat. lepas ni pulak. Post seterusnya, Taat. Antara penyebab berlakunya penceraian, kerana ketidakfahaman seorang isteri tentang taat ini.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا 
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)

Tentang Ayat Ini
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata tentang firman-Nya, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kamu.” Ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin ‘Adi, ketika diutus oleh Rasulullah di dalam satu pasukan khusus. Demikianlah yang dikeluarkan oleh seluruh jama’ah kecuali Ibnu Majah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata, ‘Bukanlah Rasulullah SAW memerintahkan kalian untuk mentaatiku?’ Mereka menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata lagi, ‘Kumpulkanlah untukku kayu bakar oleh kalian.’ Kemudian ia meminta api, lalu ia membakrnya, dan ia berkata, ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya.’ Maka seorang pemuda diantara mereka berkata. ‘Sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah SAW dari api ini. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasullah SAW. Jika beliau perintahkan kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah.’ Lalu mereka kembali kepada Rasulullah SAW dan mengabarkan tentang hal itu. Maka Rasulullah pun bersabda kepada mereka, ‘Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf.” (HR. Bukhari-Muslim dari hadits Al-A’masy)
Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW sudah memberi batasan kepada kita, bahwasannya ketaatan hanya pada yang ma’ruf, dan bukannya pada yang tidak ma’ruf.


Makna Ulil Amri
‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas bahwa, “Wa uulil amri minkum” (Dan Ulil Amri di antara kamu), maknanya adalah ahli fiqh dan ahli agama. Sedangkan menurut Mujahid, ‘Atha, Al-Hasan Bashri dan Abul ‘Aliyah-begitu pula Ibnu Qayyim Al-Jauziyah-, bermakna ulama. Ibnu Katsir menambahkan, “Yang jelas bahwa Ulil Amri itu umum mencakup setiap pemegang urusan, baik umara maupun ulama.”

Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in mengatakan, “Allah SWT memerintahkan manusia agar taat kepada Ulil Amri, dan Ulil Amri itu tidak lain adalah ulama, akan tetapi diartikan juga sebagai umara (pemerintah/tokoh formal masyarakat).”

Jadi, tidaklah benar ‘Ulil Amri’ bermakna satu-satunya pemimimpin dalam satu jamaah tertentu.
Ibnu Katsir berkata, “Ayat di atas (QS. An-Nisa: 59) adalah perintah untuk mentaati ulama dan umara. Untuk itu Allah berfirman, ‘Taatlah kepada Allah,’ yaitu ikutilah Kitab-Nya (Al-Qur’an), ‘Dan taatlah kepada Rasul,’ yaitu peganglah Sunnahnya, ‘Dan Ulil Amri di antara kamu,’ yaitu pada apa yang mereka perintahkan kepada kalian dalam rangka taat kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya. Karena, tidak berlaku ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Allah.”
Artinya taat kepada Ulil Amri ada batasannya, berbeda dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang merupakan sesuatu yang mutlak.


Larangan Taqlid pada Ulil Amri
Ibnu Qayyim meneruskan dalam kitabnya tersebut, bahwasannya makna taat kepada Ulil Amri adalah bertaqlid kepada apa yang mereka fatwakan. Akan tetapi hal yang tidak dimengerti oleh orang-orang yang taqlid adalah bahwa Ulil Amri-seharusnya-hanya ditaati apabila tidak keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Para ulama dalam hal ini hanya berfungsi sebagai mediator (penyampai perintah dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat), sementara Umara memegang peranan sebagai fasilitator demi kelancarannya. oleh karena itu, ketaatan kepada mereka merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Di bagian mana dalam ayat ini yang menunjukkan prioritas pendapat para ulama atas Sunnah Rasulullah SAW, dan anjuran untuk bertaqlid kepada pendapat-pendapat itu?

Ibnu Qayyim meneruskan, bahwa sesungguhnya ayat yang membicarakan tentang ketaatan kepada Ulil Amri adalah alasan yang paling kuat untuk membantah dan memperjelas kekeliruan taqlid. Kekeliruan tersebut dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama, perintah taat kepada Allah adalah perintah untuk melakukan segala apa yang diperintahkannya, dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

Kedua, Ketaatan kepada Rasul SAW. Dua bentuk ketaatan ini tidak akan dapat ditunaikan oleh seorang hamba kecuali dengan mengenal dan tahu persis apa yang diperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mengetahui perintah-perintah Allah dan hanya bertaqlid kepada Ulil Amri, niscaya ia tidak mungkin mewujudkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, Di dalam sebuah riwayat ditemukan larangan untuk bertaqlid kepada Ulil Amri, sebagaimana terdapat dalam riwayat yang bersumber dari Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas dan lain-lain dari kalangan sahabat. Teks riwayat itu telah kita ketahui dari 4 Imam besar Al-Matbu’ (yang diikuti).

Keempat, Allah SWT berfirman, “Apabila kalian berselisih dalam sebuah urusan, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), sekiranya kalian beriman kepada-Nya dan kepada hari kiamat.” (QS. An-Nisa: 59)

Ayat ini dengan tegas menyalahkan taqlid dan melarang untuk mengembalikan perselisihan pada pendapat seseorang atau pandangan satu madzhab tertentu.

Wallahu a-lam.

0 comments:

Post a Comment

 

©Copyright 2011 nunagon | TNB